Gastritis atau lebih dikenal dengan penyakit maag adalah penyakit yang sering diderita oleh kebanyakan orang. Penyakit ini biasanya diakibatkan karena tidak teraturnya jam makan. Biasanya penyakit ini dialami oleh pelajar atau mahasiswa dikarenakan mulai tidak memperdulikan jam makan yang teratur, ataupun karena sibuk dengan kegiatan sekolah dan luar sekolah. Berdasarkan yang saya alami, penyakit ini timbul ketika tidak ada makanan yang masuk dan mulai merasakan nyeri di bagian ulu hati.
Ketika merasakan penyakit ini tentunya merasa terganggu karena tubuh terasa lemas, tidak ada energi untuk melakukan kegiatan, bahkan bisa merasa pusing. Terlebih lagi jika terjadi nyeri dibagian ulu hati, ini juga bisa mengganggu aktivitas lain. Saya sendiri merasakan maag ini sangat mengganggu, karena tubuh terasa lemas dan nyeri dibagian ulu hati sampai harus berbaring, dan ini menyebabkan tidak bisa mengerjakan aktivitas yang seharusnya bisa dikerjakan.
Oleh karena itu, sesibuk apapun kegiatan yang dilakukan, harus tetap menjaga pola makan yang teratur, didampingi dengan makanan yang sehat. Karena dalam melakukan aktivitas membutuhkan energi, dan energi itu didapatkan dari makanan sehingga menjaga pola makan itu sangat penting bagi kesehatan tubuh.
Pada awalnya, seseorang yang terserang penyakit ini mengabaikannya saja, yaitu rasa perih
dan kembung di ulu hati. Kemudian berlanjut dengan mual dan disertai muntah. Pada saat ini,
penderita baru menyadari sakitnya. Keadaan ini berlanjut dengan berkurangnya nafsu makan.
Bila hal ini terus dibiarkan, akan berakibat semakin parah dan akhirnya asam lambung akan
membuat luka-luka (ulkus) yang dikenal dengan tukak lambung. Muntah pun bisa disertai
darah. Keadaaan gastritis akut (mendadak) juga bisa terjadi pada anak-anak yang menelan
zat-zat kimia korosif, misalnya asam dan basa kuat. Pada umumnya zat ini terdapat pada
cairan kebersihan rumahtangga maupun pestisida. Kerusakan akibat zat ini tidak hanya di
lambung, tetapi juga di bibir, rongga mulut dan tenggorokan
Bila penyakit maag ini sudah disadari oleh penderitanya, sebenarnya sangat mudah
mengatasinya. Artinya, tidak dibiarkan berlanjut terus sehingga menjadi tukak lambung. Prinsip
penanganannya adalah diet atau pengaturan makan. Jangan biarkan perut lama dalam
keadaan kosong. Keadaan kosong ini dapat mengakibatkan asam lambung yang sudah
diproduksi tidak mempunyai bahan untuk dicerna tau digilas, dan pada akhirnya dinding
lambung sendiri yang menjadi sasarannya.
Jangan terlalu banyak mengkonsumsi makanan atau minuman pedas dan asam. Hindari
makanan berlemak, karena lemak memang sulit dicerna oleh lambung. Selain itu, tektur
makanan sebaiknya lembut (lunak).
Sering-seringlah minum air putih, karena bisa mengurangi sifat asam dari makanan atau
minuman tersebut. Kurangi mengkonsumsi minuman the, kopi atau soft drink. Porsi makanan
sebaiknya tidak terlalu banyak, tetapisedikit dengan frekuensi sering.
Bila harus mengkonsumsi obat-obatan penahan nyeri (analgetik), maka sebaiknya diminum
setelah makan dan tidak dalam keadaan kosong.
Bila disiplin dalam mengatur makanan ini, Insya Allah penyakit maag bisa membaik tanpa
diobati. Seandainya perut masih melilit dan mual terus menerus, maka obat-obatan untul
menetralkan asam lambung sangat membantu meringankan penderitaan. Misalnya,
obat-obatan antasida. Bila dengan obat ini belum bisa teratasi, maka sebaiknya berkonsultasi
dengan dokter. Kadang kala diperlukan obat penenang untuk mengobatinya.
Sumber : http://www.syamsuwootekh.com/penyakit-a-pengobatannya/134-penyakit-maag-a-pengobatannya.pdf
Sabtu, 26 November 2016
Minggu, 13 November 2016
Demam Berdarah Dengue di Kota Salatiga
Demam Berdarah Dengue atau biasa disebut DBD adalah salah satu penyakit dengan angka kematian yang tinggi. Sebagian dari wilayah di Indonesia berpotensi terjangkit virus dengue ini, yang disebabkan karena penyebaran nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Hal ini perlu diwaspadai oleh seluruh warga Indonesia.
Penyebaran tertinggi di Indonesia terjadi di Provinsi Jawa Tengah terutama di kota Salatiga. Kota Salatiga ini termasuk sebagai wilayah endemisitas tinggi DBD. Ini disebabkan karena nyamuk Ae. aegypti masih rentan terhadap Insektisida sipermetrhin. Menurut penelitian penyebaran populasi nyamuk Ae. Aegypti terjadi di lingkungan perumahan, sekolah dan fasilitas atau tempat umum. Karena semakin tingginya penyebaran penyakit ini, dan semakin banyaknya penderita DBD maka dilakukan lah usaha - usaha yang dapat dilakukan. Usaha pencegahan Pemberantasan Sarang Nyamuk yang sudah banyak di sosialisasikan kepada masyarakat ternyata belum berjalan secara optimal. Maka dilakukan lah usaha yang lain, seperti pemberantasan melalui pemutusan rantai penularan virus dengue. Dari berbagai usaha yang dilakukan pemakaian kelambu berinsektisida merupakan hal yang efektif. Selain itu, alternatif pengendalian nyamuk jenis Ae. aegypti ini dilakukan dengan cara pengendalian larva menggunakan M. aspericornis dan pemakaian gorden berinsektisida sipermethrin plus etil sellulosa yang merupakan media slow release.
Penelitian dilakukan untuk membuktikan seberapa besar pengaruh yang terjadi terhadap pennyebaran penyakit DBD ini. Dari penelitian yang dilakukan menghasilkan pernyataan bahwa Angka Bebas Jentik setelah memakai M. aspericornis dan gorden berinsektisida sipermethrin plus etil selllulose semakin meningkat.Hal ini karena M. aspericornis memiliki kemampuan untuk memakan larva. Sedangkan hasil dari penelitian menggunakan gorden berinsektisida sipermethrin plus etil sellulosa ini menunjukkan daya bunuh yang tinggi terhadap larva.
Dari penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pencelupan gorden insektisida sipermethrin plus etil selulosa setiap 3 bulan sekali. Selain itu juga dengan melakukan program M. aspericornis bersama masyarakat setempat.
Langganan:
Postingan (Atom)