Minggu, 13 November 2016

Demam Berdarah Dengue di Kota Salatiga

Demam Berdarah Dengue atau biasa disebut DBD adalah salah satu penyakit dengan angka kematian yang tinggi. Sebagian dari wilayah di Indonesia berpotensi terjangkit virus dengue ini, yang disebabkan karena penyebaran nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Hal ini perlu diwaspadai oleh seluruh warga Indonesia. 
Penyebaran tertinggi di Indonesia terjadi di Provinsi Jawa Tengah terutama di kota Salatiga. Kota Salatiga ini termasuk sebagai wilayah  endemisitas tinggi DBD.  Ini disebabkan karena nyamuk Ae. aegypti masih rentan terhadap Insektisida sipermetrhin. Menurut penelitian penyebaran populasi nyamuk Ae. Aegypti terjadi di lingkungan perumahan, sekolah dan fasilitas atau tempat umum. Karena semakin tingginya penyebaran penyakit ini, dan semakin banyaknya penderita DBD maka dilakukan lah usaha - usaha yang dapat dilakukan. Usaha pencegahan Pemberantasan Sarang Nyamuk yang sudah banyak di sosialisasikan kepada masyarakat ternyata belum berjalan secara optimal. Maka dilakukan lah usaha yang lain, seperti pemberantasan melalui pemutusan rantai penularan virus dengue. Dari berbagai usaha yang dilakukan pemakaian kelambu berinsektisida merupakan hal yang efektif. Selain itu, alternatif pengendalian nyamuk jenis Ae. aegypti ini dilakukan dengan cara pengendalian larva menggunakan M. aspericornis dan pemakaian gorden berinsektisida sipermethrin plus etil sellulosa yang merupakan media slow release. 
Penelitian dilakukan untuk membuktikan seberapa besar pengaruh yang terjadi terhadap pennyebaran penyakit DBD ini. Dari penelitian yang dilakukan menghasilkan pernyataan bahwa Angka Bebas Jentik setelah memakai M. aspericornis dan gorden berinsektisida sipermethrin plus etil selllulose semakin meningkat.Hal ini karena M. aspericornis memiliki kemampuan untuk memakan larva. Sedangkan hasil dari penelitian menggunakan gorden berinsektisida sipermethrin plus etil sellulosa ini menunjukkan daya bunuh yang tinggi terhadap larva.

Dari penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pencelupan gorden insektisida sipermethrin plus etil selulosa setiap 3 bulan sekali. Selain itu juga dengan melakukan program M. aspericornis bersama masyarakat setempat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar